Plaza Kemang 88 Lt. 2 Unit 2B DKI Jakarta, Indonesia   sportschannelindonesia@gmail.com   +62 21 7193387 +62 82123848781
NEWS
Catatan Olahraga Eko Widodo: San Antonio Spurs Cita Rasa Indonesia
PERNAHKAH Anda tahu bahwa di kompetisi bola basket NBA ada tim panel yang menilai efektivitas manajemen tim dalam mengelola sebuah tim? Tim panel yang dipelopori jaringan TV ESPN ini bekerja hampir sepanjang musim. Di akhir Maret 2017 ini, mereka menempatkan San Antonio Spurs pada peringkat pertama.

San Antonio Spurs, juara lima kali NBA 2014, 2007, 2005, 2003, 1999 memang layak pada peringkat pertama. Tim yang diarsiteki Gregg Popovich ini selalu masuk play-off dalam 20 kali pergelaran secara beruntun. Panel memberikan kuosioner mulai dari pengambil keputusan tim, manajer, pemilik, hingga pelatih yang akan direkap dan keluar sebuah indeks nilai performa.



Tiga tim NBA terbaik di musim 2016/17 adalah Spurs, Golden State Warriors, dan Boston Celtics. Overal, skor performa Spurs 9,62. Dari sisi pelatih, klub yang dimiliki miliarder Peter Holt ini memiliki skor tertinggi dengan 9,73. Sedangkan dari kategori kualitas General Manager dan Presiden tim, panel mematok angka 9,65. 


Dari kiri Sandy Febiansyakh, Wahyu Widayat Jati, Christopher Jacques Tanuwidjaja, Hasan Gozali, Andre Yuwadi, dan Diftha Pratama, siap bertarung. (IBL Indonesia)

Peringkat kedua, Warriors dengan level pelatih 8,76 dan skor kualitas GM/Presiden 9,17. Performa keseluruhan Warriors dinilai 8,97 alias berselisih 0.65 dengan Spurs. Peringkat ketiga adalah Boston Celtics dengan nilai overall 8,56. Pelatih muda Brad Stevens diberi nilai 8,76. Manajemen Celtics diberi nilai cukup tinggi 8,54.

Siapakah peringkat terbawah (peringkat 30)? Dialah New York Knicks dengan nilai overall 2,20. Kualitas manajemen dinilai 1,96 sedangkan kualitas pelatih diberi poin 3,82.

Bagi saya Knicks dan Spurs adalah tim hebat di masanya. Saat saya masih aktif berkelana meliput NBA di era Michael Jordan dan Kobe Bryant, Knicks adalah tim dengan pertahanan super defensif di era John Starks, Charles Oakley, dan Patrick Ewing. Knicks ke final NBA saat terjadi pemogokan di 1999. Knicks kalah 1-4 dari Spurs, empat tahun setelah perjalanan saya ke kota Riverwalk (1995) di Texas itu.

Knicks sukses menyikat Indiana Pacers, yang diperkuat Reggie Miller, dengan 4-2 di final wilayah Timur. Sedangkan Spurs, yang identik  dengan sebutan Twin Tower (David Admiral Robinson dan Tim Duncan) menang 4-0 atas Portland Trail Blazers. Spurs sudah dilatih Popovich sedangkan Knicks dilatih Jeff Van Gundy.

Percaya atau tidak gaya bermain Spurs tidak mengalami banyak perubahan sampai 20 tahun kemudian. Di tahun 1999 mereka punya point guard gesit dan punya leadership sip, Avery Johnson; sedangkan di 2017 ada Tony Parker. Konsep twin tower dipertahankan coach Popovich lewat LaMarcus Aldridge dan Pau Gasol. Tukang bongkar dulu dibebankan pada Sean Elliott sekarang diserahkan pada pemain bertahan terbaik. Kawhi Leonard.

Bicara Spurs adalah pembicaraan level sebuah kesempurnaan, komunikasi harmonis, dan etos tinggi kerja keras. Spurs terus dinilai tinggi oleh tim panel NBA sebagai contoh konsistensi permainan di level tertinggi. Konsistensi itu membuat Spurs memiliki kelas istimewa.

***

DALAM level yang berbeda, sejak tahun lalu ada sebuah tim yang masuk level elit di kompetisi bola basket Indonesia. Dialah CLS Knights. CLS Knights adalah juara IBL 2016 dengan mengalahkan Pelita Jaya Energi MP di final.

Saya pernah menulisnya di kolom olahraga di SportsChannelIndonesia  (CLS Layak Memanen Hasil Kerja Keras) bagaimana perjalanan CLS menjadi tim ketiga yang pernah menjuarai liga pro Indonesia selain Aspac dan Satria Muda. CLS menjadi juara saat pemain muda mereka mencapai puncak. Selain itu, CLS memiliki  pemain naturalisasi Jamarr Andre Johnson. Komitmen kuat manajemen di bawah komando pengusaha muda Christopher Jacques Tanuwidjaja, bersimpangan menjadi hasil juara di IBL 2016.(http://www.sportschannelindonesia.co.id/page/article/news/738/catatan-bola-basket-cls-layak-memanen-hasil-kerja-keras.html)


"Saya perlu bertahun-tahun menunggu untuk bisa meraih mimpi dan menjadi juara liga," ucap Itop, suami pebasket nasional Sherly Humardani ini. Itop, penggemar LA Lakers ini tak ingin hanya sekadar juara namun gagal mempertahankan. Ia ingin kembali menjadi juara di tahun 2017. Menjadi tak sekadar bisa menang, namun bagaimana menyiapkan tim yang berkarakter 'petarung' dan tidak mudah menyerah.


Wahyu Widayat Jati (Foto: Tommy J. Photo)

Pelatih bermental juara, Wahyu Widayat Jati, ia pertahankan. Wahyu, punya panggilan akrab Cacing, adalah teman lama saya sejak masih bermain di Satria Muda (SM) di era pemilik lama, Doedie Gambiro dan Lisa Gambiro. Cacing setahu saya adalah pemain profesional dalam arti sebenarnya. Tak puas hanya sekadar menjadi pemain dan juara, ia belajar di Amerika Serikat menjadi instruktur personal trainer selama dua tahun.

Ia melengkapi gelar juara di pro dengan dua kali membawa Aspac menjadi juara NBL. Setelah pensiun dari Aspac, ia membawa tim CLS Knights sebagai juara IBL 2016. Wahyu bersama Mario Wuysang menjadi pemain dan pelatih yang mengoleksi tiga gelar juara di tiga klub berbeda.

Profesional, adalah cara Wahyu mengambil keputusan di bola basket. Ia pun enteng-enteng saja saat tahu kostum nomor 10 semasa di SM, tak lagi digantung di Britama Arena, markas Satria Muda, klub yang dibelanya sejak junior. Wahyu juga enteng saja ketika ia melepas Jamarr Andre Johnson, pilar penting CLS ketika mereka juara di IBL 2016.

"Saya profesional saja saat memutuskan Jamarr kami lepas. Tahun lalu, Jamarr dijaga pemain lokal sehingga kualitasnya memang terlihat. Sekarang, ketika asing ketemu asing, Jamarr yang sudah WNI ini ternyata kurang improve. Ia harus kami ganti demi mengejar target," ucap Wahyu, Kamis (30/3) saat saya kontak via telepon pribadi. 

Cacing juga siap menerima Jamarr terus di Tim Nasional SEA Games 2017. "Saya punya tolok ukur, dan Jamarr punya statistik. Jadi ia bisa tetap dipanggil di Timnas untuk ikut seleksi," ucap Cacing, ringan, seringan ia melewati perjalanan hidupnya via jalan basket.

***

Wahyu pun mengadopsi pola permainan San Antonio Spurs, yang mengandalkan passing-passing dan tidak lama menahan bola. Ia percaya 100% pada kemampuan skuad lokal CLS menghadapi Bank BJB Garuda Bandung di laga pertama, mulai Jumat (31/3) di Surabaya.

"Peluangnya 50%-50%. Garuda tetap berpeluang menang," ucap Wahyu, merendah. "Saya meminta pemain impor baru saya agar mempelajari gaya permainan Spurs," ucap Wahyu, tentang tips agar pemain impor bisa lekas menyesuaikan diri.

Lain halnya dengan Andre Yuwadi. Andre Yuwadi, pelatih kepala Garuda punya talenta istimewa. Andre, yang lulusan Beijing Sports University (BSU) ini adalah pelatih masa depan Indonesia.

Andre adalah pelatih yang sangat paham dan selalu mendasarkan keputusan kepelatihannya di lapangan berdasar pendekatan kuantitatif. Andre juga seorang scouting yang cermat dan jeli. Mantan pelatih kepala Stadium Jakarta ini selalu punya pola permainan untuk adjustment lawan terkuat sekalipun. Percaya pada pemain adalah ciri khas kepelatihan Andre.


Jamarr Andre Johnson (Foto: Tommy J. Photo)

Melawan CLS, Andre ibaratnya membuka sebuah buku yang pernah ia baca. Karier awal Andre pasca lulus dari BSU adalah menangani CLS Junior dan menjadi asisten Kim Dong-won dan Wan Amran, dua pelatih senior CLS. Andre tahu halaman-halaman mana yang mesti diberi warna khusus agar dicermati para pemainnya.

Namun, Garuda Bandung akan menemui tembok berlapis CLS Knights. Knights akan bermain saling melapis sama seperti permainan Spurs yang selalu berusaha nose to nose saat lawan melakukan transisi. Ibaratnya burung Garuda, Andre harus pintar-pintar terbang untuk mematuk dan mengindari pedang-pedang tajam Knights.

Bagaimana jika Si Burung Garuda tidak bisa terbang untuk mematuk lawan? Ya, Garuda harus konsisten bertahan, transisi defense, dan akurat saat menyerang. Andre dan Garuda tidak ada pilihan lain. Sebab, ketika Garuda inkonsisten, secara bergelombang Knights akan menyabetkan pedang-pedang tajam mereka. Artinya, CLS Knights selamat ke babak berikutnya!