Plaza Kemang 88 Lt. 2 Unit 2B DKI Jakarta, Indonesia   sportschannelindonesia@gmail.com   +62 21 7193387 +62 82123848781
NEWS
Catatan Ringan Sumohadi Marsis: Kenangan Kuala Lumpur 1977
Rabu (22 Februari) lalu, menjelang ulang tahunnya yang ke-33, koran olahraga BOLA menyelenggarakan diskusi di kantornya, Palmerah Barat, Jakarta Pusat.

Empat orang dundang dalam diskusi yang dihadiri sejumlah koresponden dan pembaca koran tersebut. Mereka adalah Gatot Dewa Broto (waktu itu masih Deputi IV dan kini Sekretaris Kemenpora), Laksamana TNI (Purn) Achmad Soetjipto (Ketua Satlak Prima), Wisnu Wardhana (Ketua Bidang Pembinaan PP PRSI), dan saya, mantan wartawan BOLA.



Topik yang dipilh dalam diskusi tersebut sangat relevan dengan perkembangan olahraga Indonesia sekarang, yakni  Seberapa Pentingkah SEA Games 2017?.

SEA Games, pekan olahraga dua tahunan bagi negara-negara di Asia Tenggara, untuk tahun ini atau edisi ke-21 sejak diawali pada 1977, akan berlangsung di Kuala Lumpur, Agustus.

Itulah yang membuat saya menganggap SEAG 2017  penting, atau tidak penting, dalam tiga perspektif. Pertama, dari sudut pandang media. Kedua, dari susut pandang pribadi. Ketiga, dari sudut pandang olahraga Indonesia sendiri.

Dari sisi media, baik cetak maupun elektronik, termasuk media sosial, SEAG bukanlah bahan berita yang penting. Masih banyak peristiwa olahraga lain yang lebih menarik untuk diliput, bahkan ditunggu-tunggu penggemarnya. Misalnya sepak bola, apalagi sepak bola Eropa.

Saya sampaikan juga sebuah ilustrasi. Pada tahun 1990, ketika kejuaraan sepak bola Piala Dunia digelar di Italia, oplah Tabloid BOLA mencapai puncaknya, 650.000 eksemplar, melebihi oplah harian Kompas yang waktu itu hanya sekitar 450.000. 

Tapi, saya sampaikan juga, oplah besar tidak identik dengan keuntungan besar. Sebab hasil penjualan Tabloid BOLA waktu itu, ditambah pendapatan iklan,  tidak bisa mengimbangi kenaikan biaya pengirimannya, jumlah kebutuhan kertasnya, dan tentu saja juga biaya cetaknya. 

Nostalgia dan ujicoba

Dari sisi pribadi, SEAG 2017 bagi saya adalah nostaldia 40 tahun. Ketika SEAG untuk pertama kali digelar pada 1977, juga di Kuala Lumpur, saya masih menjadi wartawan Kompas.

Bersama rekan Valens Doy, TD Asmadi, dan fotografer Kartono Riyadi, saya ditugasi meliput SEAG perdana itu yang semula bernama SEAP Games. Huruf P itu singkatan dari Peninsula karena sebelum 1977 pekan olahraga tersebut memang hanya diperuntukkan bagi negara-negara di kawasan Semenanjung Malaysia.

Kehadiran Indonesia bersama Filipina, dan kemudian juga Bruneri Darussalam dan Timor Leste,  membuat nama pekan olahraga itu harus diubah. Hebatnya, Indonesia menandai perubahan itu dengan cara yang dahsyat. Dengan gaya Julius Caesar,  Veni, Vidi, Vici.

Kontingen Indonesia, dipimpin Ketua Bidang Pembinaan KONI Pusat, Mayjen TNI (Purn) Gatot Suwagio langsung tampil sebagaii juara umum. Hebatnya lagi, dalam kurun waktu 20 tahun kemudian (1977-1997), Indonesia terus menerus menjadi juara umum, kecuali pada 1985 dan 1995 ketika Thailand menjadi tuan rumah dan sekaligus juara umum.

Karena itu pada Agustus nanti saya ingin sekali berada di Kuala Lumpur, bernostalgia, dan menyaksikan bedanya penyelenggaraan SEA Games setelah 40 tahun berlalu, kata saya.  

Lalu, yang ketiga, sepenting apakah SEAG 2017 bagi olahraga Indonesia? Saya katakan, [enting sekali. Sebab sejarah olahraga Indonesia memang tidak bisa dipisahkan dengan SEAG.  Lebih penting lagi, SEAG 2017 digelar satu tahun menjelang Asian Games 2018.

Dengan itu saya bermaksud mengatakan bahwa SEAG 2017 adalah medan laga terbaik untuk melaksanakan ujicoba, menjajal dan menguji seberapa jauh kemampuan para atlet yang disiapkan untuk meraih prestasi optimal pada AG 2018 di Jakarta dan Palembang.  

Memang, dari seluruh 38 cabang olahraga ang akan dipertandingkan pada SEAG 2017,  hanya 23 merupakan cabor Olimpiade, dan itu adalah bagian dari 44 cabor pada AG 2018. Tapi cukuplah untuk menjadi tolok ukur akan seperti apa kehebatan Indonesia menjadi tuann rumah AG, untuk kedua kalinya setelah AG IV pada 1962.

Masalahnya, seperti dikemukakan Soetjipto, pemerintah tidak memiliki dana yang cukup untuk mengirim katakanlah 700 atlet seperti yang ia inginkan. Menpora Imam Nahrawi sudah menyatakann di media, pihaknya hanya setuju untuk mengirim sekitar 250 atlet saja.

Sangat disayangkan, sebab, menurut Gatot, SEA Games sangat sangat penting, termasuk sebagai penggalang persahabatan sesama negara Asia Tenggara. Tapi, mau bilang apa kalau dana menjadi ke atas? ***