Plaza Kemang 88 Lt. 2 Unit 2B DKI Jakarta, Indonesia   sportschannelindonesia@gmail.com   +62 21 7193387 +62 82123848781
NEWS
Christo Tetap Mengincar Grand Slam

JAKARTA - SportsChannelIndonesia - Petenis nomor satu Indonesia, Christopher “Christo” Rungkat, masih tetap mengincar turnamen elite dunia, grand slam, sebagai puncak pencapaian prestasinya.

Christo, 27 tahun, terakhir merebut medali emas SEA Games 2017 di Kuala Lumpur di nomor tunggal putra, tapi gagal di final partai ganda campuran bersama Jessy Rompies. Mereka dikalahkan pasangan Thailand, negeri  yang menguasai cabang olahraga tenis pekan olahraga Asia Tenggara itu.

Itu merupakan emas SEA Games kedua bagi Christo setelah yang pertama pada 2011 di Palembang. Di saat itu ia juga menjadi juara pada dua nomer lainnya, yakni beregu putra dan ganda putra bersama Elbert Sie.

Menurut Dwi Ari Setyadi, petugas humas PP Pelti, berkat gelar yang direbutnya di Kuala Lumpur itu Christo menerima sejumlah bonus khusus dari Maman Wirjawan, ketua umum organisasi tenis nasional tersebut, namun dalam jumlah yang tidak diumumkan.

“Sepertinya berwujud dukungan biaya atas perjuangan  Christo untuk mengikuti sejumlah turnamen ATP agar bisa masuk kelompok teras 100-besar, dan dengan demikian ia bisa menerobos masuk turnamen grand slam,” ujar Dwi.

Tapi kawasan elite dunia itu tidak akan dicapai Christo sendirian karena peringkatnya sebagai pemain tunggal masih jauh dari mencukupi persyaratan ATP (Asosiasi Tenis Profesional putra).

Untuk mencapai arena tingkat dunia itu Christo berpasangan dengan petenis dari negara lain, yakni Jeevan Medunchezyan dari India, atau Ruan Roelofse  dari Afrika Selatan. Dalam posisi tersebut peringkat Christo menurut ATP adalah 124 dengan total raihan hadiah uang 16.033 dollar AS.

Australia Terbuka

Sayangnya, kata Dwi, perjuangan berat Christo itu sempat  berantakan karena PP Pelti lalai mendaftarkan namanya untuk menjadi peserta dalam salah satu turnamen ATP.

Manajemen sekretariat PP Pelti, yang sementara ini diketahui dipimpin oleh Wakil Sekjen Gunawan Tedjo, menurut Dwi memang kurang rapi. Itu katanya juga tercermin dari proses pendaftaran pemain pada SEA Games 2017 yang membuat Christo tidak bisa memilih pasangannya sendiri.

Namun melalui upaya yang tak kenal lelah akhirnya Christo, yang sering berlatih dengan coach asal Amerika Serikatm Robert Davis,  bisa ambil bagian dalam liga tenis di Jepang.

Jika semua rencana lancar dan hasilnya sesuai perhitungan, penampilan Christo di Jepang dan beberapa turnamenn lainnya kemudian, akan bisa memasukkannya ke deretan 100-besar ATP. Dengan itu ia bisa terjun ke turnamen grand slam  terdekat, Australia Terbuka, pada Januari 2018.

Sejak SEA Games perdana pada 1977 petenis Indonesia hampir selalu berada di peringkat puncak dengan memborong sejumlah nomer. Sebelum era tersebut Indonesia juga sudah sering tampil dalam sejumlah turnamen grand slam.

Pada turnamen Wimbledon dan AS Terbuka di tahun 1970-an kehadiran Indonesia diwakili oleh dua petenis wanita yang juga sering tampil sebagai pasangan ganda, Lany Kaligis dan Lita Sugiarto.

Sejak 1966 di Bangkok, keduanya juga bergantian dalam nomer tunggal maupun berpasangan tampil sebagai juara di arena Asian Games.

Setelah masa panen prestasi keduanya menurun, kedudukan tinggi di tingkat Asia maupun dunia itu digantikan oleh petenis putri asal Yogyakarta, Yayuk Basuki.

Yayuk, dibantu pelatih Suharyadi yang kemudian menjadi suaminya, mengukir prestasi terbaiknya dengan mencapai babak perempat-final Wimbledon 1986. Ia, sendiri dan berpasangan dengan Suzanna Anggarkusuma, juga berhasil merebut dua medali emas pada Asian Games 1986 dan 1990. Sumohadi Marsis

Foto: Dwi Ari Setyadi/PELTI