Plaza Kemang 88 Lt. 2 Unit 2B DKI Jakarta, Indonesia   sportschannelindonesia@gmail.com   +62 21 7193387 +62 82123848781
NEWS
Doni Yulianto: Awal Jasa Tukang Las Lokal

KUALA LUMPUR - SportsChannelIndonesia - Masih terekam jelas di ingatan Doni Yulianto, peraih medali emas ASEAN Para Games (APG) IX/2017 Malaysia, cabang atletik nomor kursi roda 1.500 meter T54 putra, bagaimana dia berlatih dengan kursi roda balap hasil tempaan tukang las ketika akan mengikuti APG pertamanya di tahun 2011 lalu di Solo, Indonesia.

Bukan hanya dipakai ketika berlaga di Solo, namun kursi roda "made by tukang las" itu juga digunakan jelang APG tahun 2014 di Myanmar. Tak ayal, atlet balap kursi roda Indonesia tidak ada yang meraih emas di kedua kejuaraan tersebut, meski pada edisi 2011 Doni menggenggam medali perak dan perunggu.

"Kami masih bikin sendiri waktu itu menggunakan jasa tukang las lokal. Tak seperti negara lain yakni Thailand yang sudah memakai buatan Amerika Serikat yang memperhitungkan aerodinamika dan lain-lain, kami menggunakan buatan tukang las. Yang penting imbang kanan kiri, ya sudah kita pakai," cerita Doni mengenang masa lalu sambil melepas tawa ketika ditemui di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (19/9).

Seiring jalannya waktu, keadaan mulai membaik saat APG VIII/2015 Singapura. Doni yang ketika itu kembali ke Tanah Air tanpa membawa medali sudah bisa mencicipi kursi roda balap standar internasional.

"Negara seperti Thailand sudah menggunakan peralatan internasional sejak tahun 2000-an, sementara Indonesia baru mengajukan alat tahun 2012 dan alat pertama datang tahun 2014. Itupun belum lengkap," tutur Doni.

Barulah setelah ASEAN Para Games di Singapura tahun 2015, peralatan berkualitas tinggi datang sepenuhnya. Doni dan rekan-rekannya pun harus beradaptasi dan terus berlatih, dimana ia mengaku catatan waktunya semakin membaik. "Lama-lama catatan waktu saya semakin baik," aku Doni pasca menggunakan peralatan yang mumpuni.

Hasilnya, di ASEAN Para Games 2017, Doni yang tidak diunggulkan berhasil menyabet medali emas di nomor lomba kursi roda 1.500 meter T54 putra, menaklukkan lawannya dari Thailand K. Thampsopon dengan selisih aktu hanya 0,01 detik, di mana atlet kelahiran Kalimantan Timur berusia 30 tahun itu mencatatkan waktu tiga menit 32,45 detik, sedangkan Thamsopon tiga menit 32,46 detik.

Pada APG edisi kali ini, tak hanya medali emas yang di koleksi Doni, namun sebelumnya ia sudah menyumbangkan satu perunggu untuk Indonesia ketika tampil di nomor 800 meter balap kursi roda T54 putra.

Doni pun masih berpeluang menambah medali untuk dikoleksinya. Ia masih akan memainkan satu nomor lomba kursi roda 400 meter T54 putra. Capaian tinggi di APG itu pun membuat Doni menangis terharu.

"Saya terharu bercampur senang dan sedih lantaran latihan saya selama ini terbayar lunas dengan berada di podium tertinggi. Air mata saya tumpah begitu saja. Ini emas pertama saya di APG sejak keikutsertaan di tahun 2011 lalu," ujarnya dengan mata sembab karena tangisan bahagia.

Doni yang harus menempuh pendidikan di sekolah luar biasa, berkursi roda sejak kecil karena kakinya tidak berfungsi dengan sempurna.  Pemuda yang masih "jomblo" ini ternyata memiliki bakat olahraga, khususnya balap kursi roda.

Karena itulah sejak bersekolah di SMA Luar Biasa, dia dipercaya melatih adik-adik kelas di balap kursi roda sembari menapak jalan ke dunia atlet dengan mengikuti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Luar biasa.

Selanjutnya Doni mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porporv) tahun 2009 di Jawa Tengah dan menduduki peringkat terbaik ketiga. Dari sanalah potensi Doni semakin tidak tertutupi lagi sampai akhirnya dia dipanggil untuk membela Indonesia di ASEAN Para Games tahun 2011 di Jakarta. Hasilnya, dia mendapatkan perak di nomor balap kursi roda 400 meter dan perunggu di 100 meter.

"Sejak saat itulah saya sadar bahwa masa depan saya menjadi atlet dan fokus untuk berprestasi di sini. Sebelumnya saya masih bimbang menentukan jalan," tutur Doni, yang saat ini juga sudah menjadi aparatur sipil negara Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Ada satu hal yang ingin ditunjukkan Doni di berbagai ajang balap kursi roda baik nasional maupun internasional. Dia ingin orang-orang di luar sana melihat bahwa seorang difabel seperti dirinya bisa berprestasi, bahkan mewakili nama negara di hadapan dunia. Satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh banyak manusia lainnya.

"Banyak yang pesimistis dengan saya. Mereka bilang, "setelah tamat sekolah kamu mau ke mana? Di rumah saja buka bengkel, tambal ban". Ada lagi yang bilang, "les elektronika saja, buka tempat servis" hanya karena saya difabel.

"Namun saya tidak mau karena itu bukan gairah saya. Gairah saya di olahraga. Saya mau menunjukkan kepada mereka yang memandang kaum difabel sebelah mata bahwa kami bisa berprestasi dan bisa menyejahterakan diri sendiri juga orang lain," pungkas Doni. */Eko Widodo

Sumber: Tim Media Kontingen APG Indonesia 2017