Plaza Kemang 88 Lt. 2 Unit 2B DKI Jakarta, Indonesia   sportschannelindonesia@gmail.com   +62 21 7193387 +62 82123848781
NEWS
Yana Mengincar Satu Emas Asian Games 2018

JAKARTA - SportsChannelIndonesia - Nurfitriyana Lantang, salah satu dari trio Srikandi Indonesia yang merebut medali perak pada Olimpiade 1988 di Seoul. Kini mengincar satu  medali emas pada Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang.

Yana, nama panggilan atlet panahan putri berkulit hitam manis ini, bersama dua rekannya, Lilies Handayani dan Kusuma Wardhani, merebut perak nomor beregu putri pada Olimpiade tersebut dengan menundukkan trio Amerika Serikat dalam “play off” di ujung kejuaraan.

Sebelumnya, trio tuan rumah Korea Selatan telah memastikan dirinya menjadi peraih emas, meninggalkan Indonesia dan AS sama-sama di peringkat kedua dengan skor yang sama. Keududukan imbang inilah yang membuat keduanya dipertarungkan, dan Yana, Lilies, Kusuma, menang tipis.

Perak tersebut  merupakan medali pertama bagi  Indonesia yang sudah mulai ambil bagian dalam Olimpiade sejak 1952 di Helsinki. Setelah 36 tahun berjuang tanpa henti barulah Indonesia mampu menghasilkan medali pertamanya.

Empat tahun kemudian, pada Olimpiade 1992 di Barcelona, para bintang bulutangkis Indonesia menambah kaya koleksi medali kontingen Merah Putih dengan meraup sekaligus dua emas, satu perak dan dua perunggu.

Kedua emas tersebut dihasilkan oleh Susy Susanti dan Alan Budikusuma dari nomor tunggal puteri dan putera. Di kala itu keduanya masih berpacaran. Kini keduanya sudah menjadi suami isteri dan aktif dalam pembinaan bulutangkis Indonesia, baik di dalam maupun di luar organisasi PBSI.

Raihan emas Olimpiade berlanjut setiap  empat tahun kemudian, tapi terhenti pada 2012 di London. Bahkan sebuah perunggu pun tidak bisa diraih, sampai pasangan Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir berhasil menjadi juara ganda campuran pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro.

Hanya Recurve

Hal berbeda terjadi pada panahan. Rintisan prestasi Yana, Lilies dan Kusuma pada Olimpiade 1988 tidak pernah bisa dilanjutkan oleh para atlet penerusnya, baik puteri maupun putera.

Bahkan di arena Asian Games mereka baru mampu merebut medali sebagai juara kedua pada AG 1994 di Fukuoka, Jepang, melalui trio Donald Pandiangan, Adang Adjidji, dan Tatang Ferry Budiman.

Kini Yana, sebagai pelatih tim panahan puteri Indonesia, pun hanya berani  mengincar satu emas pada AG 2018. “Lawan-lawan kita di tingkat Asia kan berkelas dunia,” katanya dalam wawancara dari lokasi melatihnya di Surabaya, Rabu (4/10).

Kejuaraan Asia maupun Asian Games sejauh ini memang didominasi oleh para pepanah dari belahan Utara, yakni Korea Selatan, Jepang, dan China. Mereka pula yang diperkirakan akan menguasai kejuaraan panahan dalam AG 2018.

Dalam kejuaraan tersebut akan diperebutkan lima medali emas, seluruhnya dari nomor “Recurve”, berupa nomor tunggal putera dan puteri, ganda putera dan puteri, dan ganda campuran. Semua pertandingan dilangsungkan dalam satu jarak, 70 meter.

Karena lapangan panahan di Senayan ditutup untuk direnovasi demi kepentingan AG 2018, Pelatnas panahan sejak tiga bulan lalu dipindahkan ke Surabaya, memanfaatkan lapangan milik KONI Jawa Timur.

Pelatnas panahan sementara ini dihuni enam atlet  puteri yang dilatih oleh Yana dan Sjafruddin Mawi sementara tiga pepanah putera ditangani oleh Denny Trisyanto. Sumohadi Marsis