KOLOM Final IBL 2019: Stapac Harus Menang Melawan Diri Sendiri

STAPAC JAKARTA  mencoba menaklukkan diri sendiri menjelang laga Final IBL 2019, Kamis (21/3) di Britama Arena, Jakarta. Dikomandoi pelatih superkeras dan superdisiplin, Giedrius Zibenas, Stapac menjadi kekuatan yang sama sekali berbeda. Disiplin, sikap ngotot, dan manajemen pertandingan Stapac berubah dibandingkan musim lalu.

Jarang bahkan hampir tak mungkin menemukan para pemain Stapac membawa hand phone saat mereka berada di ruang makan. Coach Zibenas melarang para pemainnya menjadi ‘autis’ sebab cenderung tidak melakukan percakapan dengan rekan setim karena lebih memegang telepon genggam.

“Ruang makan adalah tempat untuk berkomunikasi. Maka, kita selalu menekankan agar komunikasi itu dijalin dulu di antara para pemain. Di meja itu, karena suasananya relatif lebih rileks, maka biasanya akan cepat masuk saat diberi masukan,” ucap Antonius Joko Endratmo, asisten pelatih dan mantan pemain nasional ini.

“Aturan itu adalah wajib dan pelatih selalu mengecek kepatuhan para pemain. Habis lah mereka yang melanggar aturan ini,” ucap Joko.

Aturan kedua adalah diet makanan. Biasanya, pemilik klub selalu memberikan kebebasan kepara para pemain untuk asupan apa saja. Namun, khusus untuk pelatih Zibenas, diet harus dilakukan dengan konsisten.

“Pemain harus makan makanan yang sehat dan bergizi. Makanan itu juga harus bersih,” ucap Zibenas saat dijumpai di Surabaya. Saat itu, Zibenas merasa tidak puas dengan sajian menu salad yang ia santap. “Restoran harus memberikan menu terbaik untuk pemain saya,” ucap Zibenas yang melakukan komplain sekaligus memberikan masukan bagaimana makanan yang sehat disajikan. “Makanan sehat itu perlu keseriusan saat menyajikan,” ucap Zibenas.

“Ada menu-menu makan yang terus dikontrol oleh pelatih/asisten pelatih. Kami harus patuh dan makan makan itu,” ucap Rizky Effendi, pemain senior Stapac. Namun dasar pemain, ada saja usaha mereka untuk menyantap makanan di luar ketentuan. Tentu saja dengan sembunyi-sembunyi dan siap kena damprat jika ketahuan.  “Saya sendiri juga diwajibkan makan makanan yang sama dengan pemain,” ucap Irawan Hartono, pemilik Stapac. “Dia komplain ketika saya melanggar menu atlet,” ucap Irawan.

Percaya Angka

Untuk strategi permainan, Zibenas adalah pelatih yang sangat percaya pada angka. Ia selalu mengatakan bahwa kinerja permainan bola basket itu bisa diukur dalam angka-angka statistik.

Sebuah buku yang ditulis Dean Oliver berjudul Basketball on Paper bisa sedikit menggambarkan bagaimana Zibenas begitu mendewakan angka. Dalam bukunya, Dean Oliver menggunakan rules dan elemen untuk mengukur performa atletnya.

Asisten pelatih Antonius Joko Endratmo dan AF Rinaldo adalah asisten yang melek lebih banyak dan tidur paling sedikit musim 2018-19 ini. Sebab, Zibenas memberikan tugas ekstra kepada Inal dan Joko yang harus selalu dilaporkan setiap sebelum sarapan pagi.

“Waktu tidur saya sengat sedikit. Saya harus melihat sebuah video dari awal hingga akhir. Mencatatnya dan memberikan laporan kepada pelatih kepala,” ucap Joko saat di Solo.

Stapac adalah tim yang memiliki video yang bisa mengalisis pergerakan para pemainnya dalam sebuah pertandingan basket. Mereka belajar dari tim bola basket Jepang yang sudah melakukannya beberapa tahun lalu. Joko dan Inal bertugas menganalisis defense atau offense lawan lengkap dengan komentar di video yang disetor petugas perekam video.

“Saya dan Inal harus melaporkan secara detil. Berapa % kegagalan menembak tim lawan yang akan kami hadapi atau sudah kami hadapi. Juga titik titik utama mereka melakukan tembakan. Secara perseorangan, kami mesti tahu 12 pemain lawan, kebiasaan mereka yang membahayakan kami atau kebiasaan buruk mereka. Tembok kamar kami menjadi saksi bagaimana coach Zibenas ingin tahu 100% calon lawan kami,” ucap Joko.

Apakah tidak berat? “Pertama-tama ya, namun sekarang sudah biasa. Dan, pekerjaan ini sangat mengasyikkan,”ucap Joko.

Pelatih Bima Perkasa Yogya, Raul Miguel Hadinoto, mengakui kelebihan Zibenas membaca permainan semua lawan. “Dia pegang data semua pemain lawan Stapac. Dia tahu persis gerakan-gerakan spesiifik pemain lawan sehingga selalu bisa mengantisipasinya lewat penjagaan individual atau help defense. Itu kelebuhan Stapac saat ini,” ucap Ebos, saat bercakap di Batam.

Galak Sebagai Fungsi Kontrol

Siapakah pelatih paling sering marah? Dialah Zibenas. Menang apalagi kalah, ia pasti sering marah sebagai ungkapan tidak puas.

“Saya harus memberikan kata-kata keras sebagai bentuk mengingatkan mereka. Para pemain kadang sebagai manusia suka lupa. Kadang perlu diperingatkan dengan tegas kepada mereka,” ucap Zibenas.

Pada semifinal melawan Pacific Caesar, ada momen dimana Zibenas sama sekali tidak mau bicara dengan para pemainnya, Itu ia lakukan setelah ia marah-marah karena tindakan para pemain yang bermain di luar kesepakatan. Seorang penonton Sports Channel Indonesia, Rfai Bahtiar yang cermat mengamati sebuah kejadian pada semifinal lalu.

Mas Eko baca berita Aspac td ttg Pelatih Aspac ingin pemain patuhi instruksi” apakah ada hubungannya dengan coach Gib diem ajah mulai Q2/Q3 kalau gak salah sampai pertandingan” (Bakhtiar Rifai). Pemain senior Rizky Effendi mengomentari, coac memang marah para permainan Stapac. “Pelatih memang marah, anak -anak bermain seenaknya sendiri. Kami pun didiamkan sebagai bentuk teguran. Untungnya kami segera tersadar,” ucap Rizky.

“Kami memang salah. Banyak gerakan detil gerakan yang tidak kami lakukan. Padahal gerakan-gerakan itu sudah kami lakukan,” ucap Rizky. “Kami belajar dari kasus itum” timpal Rizky.

Disiplin adalah nafas keseharian pelatih basket asal Lituania ini. Ia ingin para pemain Stapac khususnya dan Indonesia pada umumnya menjadi sosok yang pebasket profesional luar dalam. Lituania mencontohkan itu mereka selalu memberikan pemain-pemain hebat sejak era Sarunas Marciulionis hingga Jonas Valanciunas (Toronto Raptors). 

Melihat sosok yang tegas, smart, disiplin, dan berkarakter, rasanya pantas dia dan Stapac diganjar satu gelar juara di kompetisi IBL 2018-19. Gelar yang sudah dinantikan selama lima tahun oleh para fans setia.

Author: Eko Widodo

Pernah bekerja di Tabloid BOLA selama lebih dari 20 tahun. Berpengalaman dalam dunia jurnalistik olahraga dan liputan olahraga internasional ke lima benua selama lebih dari 20 tahun. Memilik gelar akademik STP dalam bidang Teknologi Pertanian; MM dalam Manajemen Pemasaran; dan Ph.D. dalam bidang pendidikan olahraga.

Share this post

Eko Widodo1280 Posts

Pernah bekerja di Tabloid BOLA selama lebih dari 20 tahun. Berpengalaman dalam dunia jurnalistik olahraga dan liputan olahraga internasional ke lima benua selama lebih dari 20 tahun. Memilik gelar akademik STP dalam bidang Teknologi Pertanian; MM dalam Manajemen Pemasaran; dan Ph.D. dalam bidang pendidikan olahraga.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password